Dipublikasikan pada 21 Juli 2026

Pengetahuan Indrawi dan Rasio dalam Perjalanan Manusia Memahami Realitas: Kelas Colligium (Pertemuan Ke-XIV)

Pengetahuan Indrawi dan Rasio dalam Perjalanan Manusia Memahami Realitas

Dalam kajian filsafat Islam, pengetahuan manusia diperoleh melalui dua sumber utama, yaitu pancaindra dan akal (rasio). Keduanya memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam proses manusia memahami realitas. Pengetahuan yang berasal dari pancaindra menjadi langkah awal dalam proses mengetahui, sedangkan akal berperan mengolah pengalaman indrawi sehingga manusia mampu memahami makna yang lebih mendalam dari setiap realitas yang dihadapinya.

Pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindra memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, bersifat partikular karena hanya mampu menangkap objek-objek tertentu, bukan konsep yang bersifat umum atau universal. Kedua, bersifat lahiriah, sebab pancaindra hanya mengenali aspek fisik suatu objek, seperti bentuk, warna, dan suara, tanpa mampu menjangkau hakikatnya. Ketiga, pengetahuan indrawi dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga hanya dapat menangkap objek yang berada dalam jangkauan pancaindra pada saat tertentu.

Keterbatasan tersebut menunjukkan bahwa manusia memerlukan akal sebagai sumber pengetahuan yang lebih tinggi. Akal memiliki kemampuan membentuk konsep-konsep universal, memahami hubungan sebab-akibat, serta menarik kesimpulan dari berbagai pengalaman yang diperoleh melalui pancaindra. Namun demikian, hasil penalaran akal tidak selalu menghasilkan kebenaran. Kekeliruan dapat terjadi apabila premis yang digunakan tidak tepat atau proses berpikir tidak mengikuti kaidah logika. Oleh sebab itu, rasio perlu digunakan secara kritis, sistematis, dan bertanggung jawab agar mampu menghasilkan pengetahuan yang benar.

Dalam pandangan filsuf Islam Mulla Sadra, realitas tidak hanya terbatas pada dunia materi. Ia menjelaskan bahwa realitas terdiri atas tiga tingkatan, yaitu ʿālam al-mulk (alam materi), ʿālam al-mithāl (alam mitsal), dan ʿālam al-'aql (alam akal). Pandangan ini menegaskan bahwa manusia tidak hanya hidup dalam dimensi fisik, tetapi juga memiliki kemampuan intelektual untuk memahami realitas yang berada di atas dunia materi.

Akal memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari pancaindra. Akal mampu memahami makna yang berada di balik suatu fenomena, memperluas pengetahuan secara tidak terbatas, menyadari sekaligus mengevaluasi kesalahan berpikir, memahami dirinya sendiri, serta membuat prediksi berdasarkan hubungan sebab-akibat. Berbagai kemampuan tersebut menunjukkan bahwa jangkauan akal jauh lebih luas dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh pancaindra.

Dalam tradisi filsafat Islam, aktivitas berpikir tidak hanya bertujuan untuk memperoleh pengetahuan mengenai dunia. Lebih dari itu, berpikir merupakan sarana yang mengarahkan manusia kepada tujuan akhir kehidupannya. Karena itu, orientasi pemikiran manusia tidak seharusnya berhenti pada kehidupan dunia, tetapi juga mencakup kehidupan setelah kematian. Dalam filsafat ketuhanan, Tuhan dipahami sebagai tujuan akhir (al-ghāyah) dari perjalanan manusia. Dengan demikian, pengetahuan yang benar tidak hanya menghasilkan pemahaman intelektual, tetapi juga membimbing manusia menuju kesempurnaan diri serta kedekatan kepada Tuhan.

 


#BRIM KN

Dari Pesantren Untuk Peradaban