Abstraksi dan Tajrīd-Proses Akal Memahami Hakikat Pengetahuan: Kelas Colligium (Pertemuan Ke-XIII)
Abstraksi dan Tajrīd: Proses Akal Memahami Hakikat Pengetahuan dalam Filsafat Islam
Dalam kajian epistemologi filsafat Islam, pengetahuan manusia tidak berhenti pada apa yang ditangkap oleh pancaindra. Pengalaman indrawi hanya menjadi tahapan awal dalam proses memperoleh pengetahuan. Untuk memahami hakikat suatu realitas, akal menjalankan serangkaian aktivitas intelektual yang melahirkan pengetahuan universal. Dalam proses tersebut terdapat dua konsep penting yang saling berkaitan, yaitu abstraksi dan tajrīd. Meski kerap digunakan secara bersamaan, keduanya memiliki pengertian yang berbeda.
Abstraksi merupakan proses intelektual ketika akal melepaskan ciri-ciri partikular atau sifat-sifat khusus dari suatu objek sehingga menghasilkan makna yang bersifat umum atau universal. Setiap objek yang diterima oleh pancaindra selalu hadir sebagai sesuatu yang individual dengan karakteristik tertentu, seperti bentuk, warna, ukuran, tempat, dan waktu. Namun, akal memiliki kemampuan untuk mengesampingkan perbedaan-perbedaan tersebut guna menemukan hakikat yang sama di antara berbagai individu. Sebagai contoh, ketika kita melihat Ahmad, Fatimah, dan Ali, masing-masing memiliki perbedaan fisik maupun karakter. Meskipun demikian, akal mampu memahami bahwa ketiganya berada dalam satu konsep yang sama, yaitu manusia. Melalui mekanisme inilah manusia dapat membentuk konsep-konsep universal dari berbagai pengalaman yang bersifat partikular.
Proses abstraksi melahirkan konsep universal (al-mafhūm al-kullī), yaitu konsep yang dapat diterapkan kepada jumlah individu yang tidak terbatas. Ketika seseorang memahami konsep "manusia", konsep tersebut tidak hanya merujuk pada satu individu tertentu, tetapi mencakup seluruh manusia tanpa dibatasi ruang maupun waktu. Berbeda dengan konsep partikular yang hanya berlaku pada satu objek tertentu, konsep universal menjadi landasan bagi manusia untuk menyusun definisi, melakukan klasifikasi, membangun penalaran logis, hingga mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kemampuan melakukan abstraksi menjadi salah satu karakteristik utama akal manusia.
Berbeda dengan abstraksi, tajrīd bukanlah proses pembentukan konsep, melainkan kemampuan akal memahami makna yang telah terlepas dari ketergantungan pada materi. Secara bahasa, tajrīd berarti melepaskan atau membebaskan. Dalam tradisi filsafat Islam, istilah ini menunjukkan kemampuan akal untuk memahami realitas yang tidak lagi bergantung pada objek fisik. Seseorang dapat memahami konsep keadilan, kemanusiaan, atau angka lima tanpa harus melihat bentuk materialnya, karena konsep-konsep tersebut tidak memiliki warna, ukuran, maupun bentuk fisik. Kemampuan memahami makna yang bersifat nonmaterial inilah yang disebut sebagai tajrīd.
Dengan demikian, abstraksi dan tajrīd berada pada tingkatan yang berbeda, meskipun keduanya saling melengkapi. Abstraksi menjelaskan bagaimana akal memperoleh konsep universal dari pengalaman indrawi, sedangkan tajrīd menjelaskan kemampuan akal memahami konsep universal tersebut tanpa lagi bergantung pada keberadaan objek material. Hubungan keduanya dapat dipahami sebagai sebuah rangkaian proses. Pengetahuan berawal dari objek-objek partikular yang ditangkap oleh pancaindra, kemudian akal melakukan abstraksi hingga terbentuk konsep universal. Selanjutnya, konsep universal tersebut dipahami secara tajrīd karena tidak lagi terikat pada karakteristik fisik objek yang menjadi asalnya.
Dalam tradisi filsafat Islam, khususnya menurut Mulla Sadra, konsep tajrīd memiliki cakupan makna yang lebih luas daripada sekadar kemampuan intelektual. Tajrīd juga dipahami sebagai indikator tingkat kesempurnaan eksistensi jiwa manusia. Jiwa dipandang mengalami perkembangan secara bertahap, dari kondisi yang sangat terikat pada materi menuju keadaan yang semakin immaterial. Semakin tinggi tingkat tajrīd seseorang, semakin kuat pula kemampuan akalnya dalam memahami realitas serta semakin besar kemampuannya mengendalikan dorongan-dorongan material.
Pandangan tersebut berkaitan erat dengan konsep manusia sebagai basyar dan insan. Sebagai basyar, manusia memiliki dimensi biologis yang ditandai oleh berbagai kebutuhan jasmani, naluri mempertahankan hidup, serta kecenderungan mencari kepuasan yang bersifat instan. Dalam perspektif psikologi modern, kecenderungan ini dapat dikaitkan dengan sistem penghargaan (reward system) di otak yang mendorong manusia mengulangi perilaku yang memberikan imbalan secara cepat. Sebaliknya, sebagai insan, manusia memiliki dimensi rasional dan spiritual yang memungkinkan dirinya mengendalikan dorongan naluriah melalui akal dan kesadaran moral. Ketika jiwa berkembang menuju tingkat tajrīd yang lebih tinggi, sisi insan menjadi semakin dominan sehingga manusia tidak lagi bertindak semata-mata berdasarkan kesenangan sesaat, melainkan atas pertimbangan rasional, etis, dan spiritual.
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa abstraksi dan tajrīd merupakan dua konsep yang saling melengkapi dalam epistemologi filsafat Islam. Abstraksi menjelaskan proses intelektual yang menghasilkan konsep-konsep universal, sedangkan tajrīd menjelaskan kemampuan akal memahami konsep-konsep tersebut secara immaterial. Dalam perkembangan filsafat Islam, tajrīd bahkan dipahami sebagai indikator kesempurnaan jiwa. Semakin tinggi tingkat tajrīd seseorang, semakin besar pula kemampuannya mengaktualisasikan sisi insannya serta mengarahkan kehidupan berdasarkan akal, moral, dan nilai-nilai spiritual.
#BRIM KN
Dari Pesantren Untuk Peradaban